Sabtu, 22 Juni 2013

Manajemen Nafs untuk Sukses Total



Bismillahirrohmanirrohim


Pendahuluan

Dalam kamus Arab – Indonesia, An-nafsu :  jiwa atau ruh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nafsu : 1 keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat; 2 dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik; hawa nafsu: hal tidak baik itu tidak mungkin dilakukan tanpa melawan hawa nafsu pribadi.

Ayat-ayat Al Qur’an tentang nafsu
Allah telah memperingatkan kepada kita tentang nafs, dalam firman-Nya sebagai berikut:

QS Yusuf (12) : 53
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pe-ngampun lagi Maha PenyayangDan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesung-guhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

QS Al Jatsiyah (45) : 23
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesu-dah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

QS Asy Syams (91) : 7-8
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا  (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  (8)  قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا   (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا      (10)

7.  dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8.  maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
9.  sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya

QS An Nisa (4) : 135
فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا
            Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.

Menurut Imam Ghozali, nafsu pada manusia terbagi atas tujuh tingkatan.

1)     Nafsu Amarah. Manusia (lebih sering) berupaya untuk memenuhi kehendak nafsunya. Peraturan, perundangan, ketentuan yang berlaku di lingkungannya, serta kaidah-kaidah agama sering dilanggarnya, demi memenuhi kehendak nafsunya.
2)     Nafsu Lawamah. Orang yang telah mematuhi hukum dan kaidah Allah dan Rasul-Nya, tetapi masih suka melanggarnya,  suka berbuat maksiyat. Apabila telah sadar, ia bertobat dan kembali kepada kebaikan.
3)     Nafsu Kamilah. Jiwa yang telah mendapat pancaran kebenaran dari Alah. Kebahagiaan yang hakiki baginya ialah berada di haribaan Allah.
4)    Nafsu Mardiyah.  Jiwa yang telah meningkat. Semua yang dikerjakannya mendapat rido Allah, serta hidayah-Nya, pertolongan-Nya (Maunah-Nya).
5)    Nafsu Mulhamah. Jiwa yang telah dikaruniai sifat-sifat keutamaan Allah. Sehingga, tingkah laku dan perbuatan sehari-haringa selalu menapat ilham dan bimbingan Allah, terbebas dari sifat-sifat iri hati, dengki, serakah, kikir, dlsab.
6)    Nafsu Mutmainah.  Jiwa yang telah mendapat ketenangan, telah sanggup menerima cahaya kebenaran dari Allah.
7)    Nafsu Radiyah.  Jiwanya telah diserahkan sepenuhnya kepada Alah. Perbuatannya selalu diliputi rasa ikhls tanpa pamrih.

Apabila tidak dikelola dengan baik, nafs manusia dapat menimbulkan bencana serta  menje-rumuskannya ke dalam jurang kehancuran. Perasaan takut, kesal, malu, sedih, jengkel, dan cemas yang berlebihan, akan menimbulkan gangguan kejiwaan yang sukar diobati (stress).

Contoh 2 :  perasaan bangga yang berlebihan atas keberhasilan, kenaikan pangkat/ ja-batan, serta mendapat keuntungan /kesenangan, akan menimbulkan sifat kesombongan, angkuh serta menyepelekan atau merendahkan orang lain. Akibatnya, akan dicemooh dan dikucilkan atau tidak disenangi oleh orang lain. Apabila menemui kegagalan, akan muncul gangguan kejiwaan.

Menurut hasil penelitian para ahli psikologi /psikiater, kekuatan rasa (nafsu) seseorang mencapai 5000 kali lebih kuat dari kekuatan akal (ratio). Sebab itu, kebanyakan orang cukup sulit mengendalikan rasa (nafsu).

Allah Azza wa Jala berfirman dalam Q.S. Al Ma’idah (5) : 49, sebagai berikut :







Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap me-reka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bah-wa sesungguhnya Allah akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Peringatan dari Allah Azza wa Jalla  
Dalam Q.S. Al Baqoroh/2 : 155 di atas (Pembuka), keimanan seseorang akan diuji dgn  perasaan takut  (takut kelaparan, takut miskin, takut kekurangan pangan). Maka jalan terbaik, adalah dengan bersabar dan selalu memohon perlindungan Allah. Dalam ayat selanjutnya (Q.S. 2 : 156 dan 157), dijelaskan pula tentang cara bersabar, yaitu :




156     (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"
157    Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb (Allah)  mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (dari Allah).

Sesungguhnya, di dalam tubuh manusia ada tiga kekuatan yang saling berlomba, yaitu kekuatan akal (intelektual – IQ),  kekuatan perasaan (emosi – EQ), dan kekuatan spritual (batin – SQ).

Upayakanlah keseimbangan antara emosi atau ahwa (hawa nafsu). akal pikiran (intelektual), dengan kekuatan spiritual, dengan cara berdzikir (taqorrub ilallah) dan meng-ambil pelajaran, sebagaimana tertera dalam Q.S. Al-Jaatsiyah (45) : 23;



  
Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya (EQ) sbg. Tuhannya? Dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya (IQ), dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan ats penglihatannya?  Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).  Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Seseorang yang telah dibiarkan Allah (tidak diberi pertolongan), hatinya akan bertambah keras dan beku, tak dapat menerima kebenaran yang hakiki.
Sebaliknya, orang yang hidupnya di bawah bimbingan Allah (mendapat petunjuk Allah), maka ia akan mudah tersentuh hatinya bila mendengan ayat-ayat Allah,  AQ Al-Anfal (8) : 2;


Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan (hanya) kepada Robb-lah mereka bertawakaal.

Mari kita introspeksi ke dalam diri kita, apakah bila mendengar seruan “A:LLAHU AKBAR” pada waktu mendengar adzan, hati kita suka tergetar? Apakah setelah membaca Al Qur’an, iman kita suka bertam-bah? Apabila tidak . . . . . . . . , bagaimana kondisi iman kita.

Menurut Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah, sumber penyakit hati terbagi menjadi lima,  yaitu :
1)       Kasratul khulatha fisysyarri ( Terlalu banyak bergaul dlm keburukan dan kemaksiyatan)    Setiap kemaksiyatan yang dilakukan orang lain, akan berpengaruh pada dirinya. Menurut Imam Ghazali, hati itu bagaikan cermin, dan kemaksiyatan itu bagaikan debu. Bila debu semakin banyak pada cermin, kita akan semakin buram, bila bercermin.
2)       Kasratul muna  (terlalu banyak berangan -angan)     Orang yang berangan-angan tinggi, yang tidak diimbangi dengan kemampuannya, bila gagal akan mudah diserang penyakit STRESS, hatinya selalu diliputi perasaan resah gelisah.  Rasulullah saw. Pernah memberi nasihat kepada Abu Dzar Al-Ghifari, “Aku diperintah agar selalu melihat orang-orang yang ada di bawahku, dan jangan melihat orang-orang yanga ada di atasku (dalam urusan dunia).”
3)       Ta’alluq bi ghairillah  (berhubungan / meminta  bantuan kepada selain Allah)
4)       Kasratun Naum  (terlalu banyak tidur). Orang yang terlalu banyak tidur, hatinya akan mati. Maka bila bangun tidur R.saw. mengajarkan do’a yang artinya : “Segala puji bagi Allah, dzat yang telah menghidupkan kami, setelah mematikan kami”.
5)       Kasratut Tho’am (terlalu banyak makan). Orang yang terlalu banyak makan, terutama yang  lezat-lezat, akan mudah terserang berbagai macam penyakit. Selain itu, dia akan cepat mengantuk, lemas badan, dan malas beribadah.

Jangan menyakiti perasaan orang lain, agar hati kita tidak tersakiti orang lain.

Allah memperingatkan dalam Q.S. Al Baqoroh (2) : 263 dan 264, sebagai berikut.




263     Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
264     Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima),  … .

Selanjutnya, Allah memperingatkan dalam Q.S. Al Baqoroh (2) : 262


Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.




dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepa-damu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan seba-gian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar