Bismillahirrohmanirrohim
Pendahuluan
Dalam
kamus Arab – Indonesia,
An-nafsu : jiwa atau
ruh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nafsu : 1 keinginan
(kecenderungan, dorongan) hati yang kuat; 2 dorongan hati yang kuat
untuk berbuat kurang baik; hawa nafsu: hal tidak baik itu tidak
mungkin dilakukan tanpa melawan hawa nafsu pribadi.
Ayat-ayat Al Qur’an tentang nafsu
Allah telah memperingatkan kepada kita tentang nafs, dalam
firman-Nya sebagai berikut:
QS Yusuf
(12) : 53
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ
النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ
رَحِيمٌ
Dan
aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu
selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh
Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pe-ngampun lagi Maha PenyayangDan aku tidak
membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesung-guhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
QS Al
Jatsiyah (45) : 23
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ
هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ
وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ
أَفَلا تَذَكَّرُونَ
Maka
pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya,
dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci
mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka
siapakah yang akan memberinya petunjuk sesu-dah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
QS Asy
Syams (91) : 7-8
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
7. dan
jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8. maka
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
9.
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya
QS An Nisa
(4) : 135
فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا
Maka janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
Menurut Imam Ghozali, nafsu pada manusia terbagi atas
tujuh tingkatan.
1) Nafsu Amarah. Manusia (lebih sering)
berupaya untuk memenuhi kehendak nafsunya. Peraturan, perundangan, ketentuan
yang berlaku di lingkungannya, serta kaidah-kaidah agama sering dilanggarnya,
demi memenuhi kehendak nafsunya.
2) Nafsu Lawamah. Orang yang telah mematuhi
hukum dan kaidah Allah dan Rasul-Nya, tetapi masih suka melanggarnya, suka berbuat maksiyat. Apabila telah sadar,
ia bertobat dan kembali kepada kebaikan.
3) Nafsu Kamilah. Jiwa yang telah mendapat
pancaran kebenaran dari Alah. Kebahagiaan yang hakiki baginya ialah berada di
haribaan Allah.
4) Nafsu Mardiyah.
Jiwa yang telah meningkat. Semua yang dikerjakannya mendapat rido Allah,
serta hidayah-Nya, pertolongan-Nya (Maunah-Nya).
5) Nafsu Mulhamah. Jiwa yang telah dikaruniai
sifat-sifat keutamaan Allah. Sehingga, tingkah laku dan perbuatan sehari-haringa
selalu menapat ilham dan bimbingan Allah, terbebas dari sifat-sifat iri hati,
dengki, serakah, kikir, dlsab.
6) Nafsu Mutmainah. Jiwa yang telah mendapat ketenangan, telah
sanggup menerima cahaya kebenaran dari Allah.
7)
Nafsu Radiyah. Jiwanya telah diserahkan sepenuhnya kepada Alah.
Perbuatannya selalu diliputi rasa ikhls tanpa pamrih.
Apabila tidak dikelola dengan baik, nafs manusia dapat
menimbulkan bencana serta menje-rumuskannya
ke dalam jurang kehancuran. Perasaan takut, kesal, malu, sedih, jengkel, dan
cemas yang berlebihan, akan menimbulkan gangguan kejiwaan yang sukar diobati
(stress).
Contoh 2 : perasaan
bangga yang berlebihan atas keberhasilan, kenaikan pangkat/ ja-batan, serta
mendapat keuntungan /kesenangan, akan menimbulkan sifat kesombongan, angkuh
serta menyepelekan atau merendahkan orang lain. Akibatnya, akan dicemooh dan
dikucilkan atau tidak disenangi oleh orang lain. Apabila menemui kegagalan,
akan muncul gangguan kejiwaan.
Menurut hasil penelitian para ahli psikologi /psikiater,
kekuatan rasa (nafsu) seseorang mencapai 5000 kali lebih kuat dari kekuatan
akal (ratio). Sebab itu, kebanyakan orang cukup sulit mengendalikan rasa
(nafsu).
Allah Azza wa Jala berfirman dalam Q.S. Al Ma’idah (5) :
49, sebagai berikut :

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka
menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap me-reka,
supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan
Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah),
maka ketahuilah bah-wa sesungguhnya Allah akan menimpakan musibah kepada mereka
disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia
adalah orang-orang yang fasik.
Peringatan
dari Allah Azza wa Jalla
Dalam Q.S. Al Baqoroh/2 : 155 di
atas (Pembuka), keimanan seseorang akan diuji dgn perasaan takut (takut kelaparan, takut miskin, takut
kekurangan pangan). Maka jalan terbaik, adalah dengan bersabar dan selalu
memohon perlindungan Allah. Dalam ayat selanjutnya (Q.S. 2 : 156 dan 157),
dijelaskan pula tentang cara bersabar, yaitu :

156
(yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"
157
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat
dari Robb (Allah) mereka, dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk (dari Allah).
Sesungguhnya, di dalam tubuh
manusia ada tiga kekuatan yang saling berlomba, yaitu kekuatan akal
(intelektual – IQ), kekuatan perasaan
(emosi – EQ), dan kekuatan spritual (batin – SQ).
Upayakanlah
keseimbangan antara emosi atau ahwa (hawa nafsu). akal pikiran (intelektual),
dengan kekuatan spiritual, dengan cara berdzikir (taqorrub ilallah) dan
meng-ambil pelajaran, sebagaimana tertera dalam Q.S. Al-Jaatsiyah (45) :
23;
Maka, pernahkah kamu melihat
orang yang menjadikan hawa nafsunya (EQ) sbg. Tuhannya? Dan Allah membiarkannya
sesat berdasarkan ilmunya (IQ), dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan
hatinya dan meletakkan tutupan ats penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk
sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Seseorang yang telah
dibiarkan Allah (tidak diberi pertolongan), hatinya akan bertambah keras dan
beku, tak dapat menerima kebenaran yang hakiki.
Sebaliknya, orang yang
hidupnya di bawah bimbingan Allah (mendapat petunjuk Allah), maka ia akan mudah
tersentuh hatinya bila mendengan ayat-ayat Allah, AQ Al-Anfal (8) : 2;

Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka,
dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan
(hanya) kepada Robb-lah mereka bertawakaal.
Mari kita introspeksi ke
dalam diri kita, apakah bila mendengar seruan “A:LLAHU AKBAR” pada waktu
mendengar adzan, hati kita suka tergetar? Apakah setelah membaca Al Qur’an,
iman kita suka bertam-bah? Apabila tidak . . . . . . . . , bagaimana kondisi
iman kita.
Menurut Syaikhul Islam, Ibnu
Taimiyah rahimahullah, sumber penyakit hati terbagi menjadi lima,
yaitu :
1)
Kasratul khulatha fisysyarri (
Terlalu banyak bergaul dlm keburukan dan kemaksiyatan) Setiap kemaksiyatan yang dilakukan orang
lain, akan berpengaruh pada dirinya. Menurut Imam Ghazali, hati itu bagaikan
cermin, dan kemaksiyatan itu bagaikan debu. Bila debu semakin banyak pada
cermin, kita akan semakin buram, bila bercermin.
2)
Kasratul muna (terlalu banyak berangan -angan) Orang yang berangan-angan tinggi, yang
tidak diimbangi dengan kemampuannya, bila gagal akan mudah diserang penyakit
STRESS, hatinya selalu diliputi perasaan resah gelisah. Rasulullah saw. Pernah memberi nasihat kepada
Abu Dzar Al-Ghifari, “Aku diperintah agar selalu melihat orang-orang yang ada
di bawahku, dan jangan melihat orang-orang yanga ada di atasku (dalam urusan
dunia).”
3)
Ta’alluq bi ghairillah (berhubungan / meminta bantuan kepada selain Allah)
4)
Kasratun Naum (terlalu banyak tidur). Orang yang terlalu
banyak tidur, hatinya akan mati. Maka bila bangun tidur R.saw. mengajarkan do’a
yang artinya : “Segala puji bagi Allah, dzat yang telah menghidupkan kami,
setelah mematikan kami”.
5)
Kasratut Tho’am (terlalu banyak
makan). Orang yang terlalu banyak makan, terutama yang lezat-lezat, akan mudah terserang berbagai
macam penyakit. Selain itu, dia akan cepat mengantuk, lemas badan, dan malas
beribadah.
Jangan
menyakiti perasaan orang lain, agar hati kita tidak tersakiti orang lain.
Allah memperingatkan dalam Q.S.
Al Baqoroh (2) : 263 dan 264, sebagai berikut.

263 Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang
diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya
lagi Maha Penyantun.
264 Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), … .
Selanjutnya, Allah memperingatkan dalam Q.S. Al Baqoroh (2)
: 262

Orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang
dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak
menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.
Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

dan hendaklah kamu memutuskan
perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya
mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepa-damu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada
mereka disebabkan seba-gian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan
manusia adalah orang-orang yang fasik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar