IBLIS, JIN,
DAN SETAN
Diantara
sifat yang dimilliki orang-orang yang beriman adalah beriman kepada yang ghoib,
sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam Al-Qur'an:
الم . ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدىً
لِلْمُتَّقِين . الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون
Alif laam
miim. Inilah kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan didalamnya. Merupakan
petunjuk bagi orang-orang yang sholat serta menginfakkan sebagian yang Kami
rejekikan kepada mereka (al Baqoroh:1-3)
Bahwa
Rasulullah telah menjelaskan bahwa beriman kepada yang ghoib merupakan jenis
keimanan yang paling utama sebagaimana diriwayatkan Ibnu Mas'ud ra.:
ما امن أحد قط إيمانا أفضل من إيمان ب غيب
Tidak ada
keimanan seorang mukmin yang semisal dengan keimanan kepada yang ghoib.
(riwayat Tirmidzi, hasan shohih)
Abu Bakar
digelari As-Shiddiq (yang membenarkan), karena beliau selalu membenarkan setiap
berita ghoib yang disampaikan oleh Nabi SAW kepadanya.
Oleh
karena itu sudah menajdi kewajiban kaum muslimin untuk beriman, membenarkan,
serta taslim (berserah) secara mutlak terhadap semua yang dikabarkan Rasulullah
SAW tentang masalah-masalah ghoib atau lainya, baik diterangkan hikmahnya
kepada kita maupun tidak. Dan hendaklah setiap muslim berhati-hati agar tidak
menjadikan akalnya sebagai hakim/pemutus terhadap firman Allah dan sanda
Rasul-Nya.
Diantara
masalah-masalah ghoib yang banyak disalah pahami oleh sebagian manusia, adalah
masalah jin dan setan serta pengaruh keduanya. Dalam hal ini mereka terbagi
menjadi tiga kelompok.1
Pertama, kelompok yang melemparkan semua
kejahatan dan kejelekan yang menimpa mereka kepada jin dan setan. Dari sini
lahirlah raasa takut, sehingga melahirkan sikap yang dapat menjerumuskan mereka
pada perbuatan-perbuatan syirik atau mengakibatkan mereka terhalang dari
perbuatan-perbuatan yang disyari'atkan. Semua ini terjadimkarena kebodohan dan
sedikitnya ilmu mereka serta lemahnya iman dan sikap tawakal mereka.
Kedua, kelompok yang menolak pengaruh
setan dan jin baik secar keseluruhan maupun sebagian, sejalan dengan keyakinan
rusak mereka didalam menolak semua yang tidak terasa dan tidak tertangkap oleh
panca indra.
Ketiga, kelompok pertengahan. Mereka
adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yang menetapkan apa yang ditetapkan oleh
syari'at sekalipun tidak terjangkau oleh akal mereka dan tidak terasa oleh
indra mereka, dan meyakini semua itu sebagai bagian dari keimanan kepada yang
ghoib. Maka Ahlus Sunnah wal Jama'ah beriman akan adanya jin dan setan, namun
keduanya tidak bisa berbuat apapun kepada manusia kecuali dengan kehendak Allah
dan kekuasan-Nya. Allah berfirman:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ
لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah:
"Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan
Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang
yang beriman harus bertawakal." (at Taubah: 51)
Masalah
jin serta peristiwa-peristiwa yang tidak bisa diingkari oleh akal manuusia ini
terdapat dalam Al Qur'an da As Sunnah. Allah berfirman:
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ
مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآناً عَجَباً (الجـن:1)
Katakanlah
(hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan
sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah
mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (al Jin:1)
من الجنة والناس
…..Dari
kalangan jin dan manunsia. (an Nas:4)
Dan banyak
lagi ayat yang lain.
Wajib
Beriman Dengan Adanya Jin
Keberadaan
jin telah diretangkan dalam Al Qur'an, sunnah Rasullullah dan Ijma' kaum muslimin. Tidak ada
orang yang mengingkari eksistensinya kecuali mereka yang sedikit ilmunya serta
lemah imannya. Karena hal ini termasuk masalah yang dikabarkan secara mutawatir
dari para Nabi dan Rosul.
Berkata
Syikhul Islam Ibnu Taimiyah: "Tidak seorangpun kaum muslimin yang
memungkiri terhadap eksistensi jin serta dalam hal diutusnya Muhammad oleh Allah kepada mereka (jin).
Bahkan orang-orang kafirpun meyakini akan adanya jin. Adapun Ahlul Kitab, dari
kalangan Yahudi dan Nasrani, mereka pun meyakini adanya jin seperti keyakinan
kaum muslimin. Kalaupun ada dikalangan mereka yang emngingkari adanya jin, maka
hal itu sebagaimana yang terjadi dikalangan kaum muslimin seperti al Jahmiyah
dan Mu'tazilah yang mengingkari hal itu. Akan tetapu jumhur (mayoritas)
tokoh-tokoh mereka (Yahudi dan Nashara) meyakininya. Hal ini disebabkan karena
keberadaan jin telah dikabarkan secara mutawatir oleh para Nabi dab Rasul.2
AS-Syibli
ketika menerangkan tentang adanya jin berkata:"Imam Al Haramain didalam
kitabnya As Syamil berkata: Ketahuilah bahwa kebanyakan Ahli Filsafat dan
mayoritas Qodariyah serta seluruh kaum zindiq mengingkari adanya setan dan jin.
Sebenarnya tidak terlalu aneh kalau yang mengingkari hal itu adalah oang-orang
yang tidak mengkaji syari'at dan tidak meyakininya. Anehnya justrru orang-orang
Qodariyah yang telah mengetahuui Al Qur'an dan As Sunnah malah menyimpangkan
sejumlah nash tentang hal tiu dan mengingkarinya."3
Berkata
Abu Al qosim Al Anshori di dalam syarah Al Irsyad:"Mayoritas Mu'tajilah
telah mengingkari mereka (jin). Pengingkaran mereka tentang hal ini menunjukkan
sedikitnya pengkajian mereka serta lemahnya keyakinan mereka. Padahal
keberadaan mereka (jin) bukan suatu yang mustahil menurut akal. Sebab hal ini
telah diterangkan oleh nash-nash kitab Allah dan sunnah Rasul dan akal sehat
yang berpegang teguh pada tali Allah.
Telah berkata
Al Baqilani, bahwa pada jaman dahulu kebanyakan orang Qodariyah meyakini
keberadaan mereka (jin) akan tetapi sekarang mereka mengingkarinya…."4
Dengan
demikian jelaslah bahaw orang-orang yang mengingkari adanya jin dan setan
termasuk kalangan Ahlul Bid'ah serta telah meyimpang dari I'tikad Ahlus Sunnah
wal Jama'ah.
Pengertian
JIN
Jin
berasal dari kata Janna ( جن
) yang artinya menutupi sebagai mana terdapat pada beberapa ayat Al Qur'an.
Dalam surat At
Tanzil dikatakan yang artinya telah menutupi.
Dari
sinilah kata jin terbentuk, dikarenakan tertutup dan tersembunyinya mereka dari
pandangan manusia. Oleh karena itu bayi yang dikandung didalam perut ibu
dinamakan janin, karena tertutup dari pandangan manusia.5
As Syibli
mengatakan, bahwa Ibnu Duraid berkata:"Bahwa jin berbeda dengan manusia.
Bila dikatakan Jannahu al lailu, wal ajannahu, wa janna 'alaihi, wa ghathahu
maknanya satu yaitu menutupi. Segala suatu yang tertutup dari pandangan anda
dikatakan janna 'anka. Dan dari sini terbentuklah kata jin. Orang-orang
jahiliyah jaman dalu meyebut para malaikat sebagai jin karena tertutupnya
mereka dari pandangan mata.
Pengertian
SETAN
Setan
berasal dari kata syathana (شطن
) yang artinya jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah. Huruf nun (ن) adalah huruf
asli dan wazannya adalah fa'aala (فعال). Maka setiap yang sombong dan
durhaka baik dari kalangan jin, manusia ataupun binatang dapat disebut setan.6
Oleh
karena itu Allah berfirman:
وكذ لك جعلنا نبي عدوا شيا طين الإ نس و الجن
Dan
demikianlah kami jadikan bagi setiap Nabi musuh berupa setan dari kalangan
manusia dan jin ….. (al An'am 112)
Didalam
musnad Imam Ahmad dari Abu Dzar ra., dia berkata bahwa Rasulullah SAW telah
bersabda:
يا أبا ذار تعوذ با الله من الشسا طين الإنس و
الجن
Wahai Abu
Dzar, berlindunglah kepada Allah dari setan manusia dan jin.
Juga
diriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
.............فقل الكاب الأسود شيطن
Shalat
terputus oleh wanita, himar/keledai, dan anjing hitam. Lalu aku (Abu Dzar)
berkata: Wahai Rasulullah, apabedanya anjing hitam dengan anjing merah atau
kuning? Maka Rasulullah menjawab: Anjing hitam adalah setan.
Pengertian
IBLIS
Iblis
berasal dari kata ablasa yang artinya putus asa dari rahmat Allah. Seperti yang
terdapat dalam surat
at Tanzil. فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (maka
tiba-tiba mereka putus asa).
Madzhab
pertama menyatakan bahwa iblis berasal dari kalangan jin. Mereka berdalih
dengan firman Allah surat
Al Kahfi ayat 50.
Madzhab
kedua berpendapat sebaliknya. Mereka menyatakan bahwa iblis dari golongan
malaikat . ketika dia kafir maka dia pun terusir dari rahmat Allah dan
dijauhkan, berdalih dengan firman Allah suratt Al Baqarah ayat 34.
Tetapi
Ibnu Katsir lebih cenderung pada pendapat bahaw iblis bukan termasuk golongan
malaikat, tetapi dari golongan jin (lihat tafsit Ibnu Katsir surat al Baqarah ayat 34)
Al Hasan
Al Bashri mengatakan, bahwa iblis sama sekali bukan dari golongan malaikat.
Iblis adalah cikal bakal jin, seperti halnya Adam adalah cikal bakal manusia.
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Abdurahman Bin Sa'id bin Aslam (tafsir Ibnu
Katsir I/114)
Wallahu
'alam.
Tujuan
Utama Setan
Sesudah
setan merasa tetap berada di muka bumi sampai hari pembalasan, dikatakan
kepadanya:
إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ قَالَ
فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ
Allah
berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang
yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. (al hijr
37-38)
Maka
langsung saja ia menyatakan terus terang tujuannya yang utama. Iblis berkata:
رب بما أعويتني لأزينن لهم في الأض زلأغوينهم
أجمعين إلا عباد ك منهم المحلصين
Ya
Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan
menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti
aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis
di antara mereka. (al Hijr 39-40)
Jin
Pendamping Manusia (Qarin)
Banyak
kejadian yang dikisahkan oleh manusia tentang hantu atau roh orang yang sudah
meninggal. Kita bisa melihat di acara-acara televisi dewasa ini yang
mengemasnya dengan sajian yang menarik. Seseorang bercerita bahwa suatu ketika
ditemui oleh si Fulan. Ternyata diketahui bahwa si Fulan tersebut baru saja
meninggal dunia. Kisah-kisah sejenis ini sangatlah banyak ragam kejadiaannya.
Maka,
kebanyakan manusia mengira bahwa roh orang yang sudah meninggal itu
bergentayangan. Bahkan, peristiwa-peristiwa yang bersangkutan dengan kejadian
orang yang baru meninggal tersebut sampai membuat segolongan aliran
berkeyakinan bahwa orang yang sudah meninggal itu akan menitis kembali. Mereka
menyebutkan bukti-bukti kejadian yang berkaitan dengan peristiwa kematian, dan
juga hasil dari cerita-cerita seperti tersebut di atas.
Anggapan
atau persepsi yang merupakan keyakian bagi kebanyakan orang-orang itu tidak
lepas dari pengetahuan dan informasi yang diterimanya. Mereka berkeyakinan
demikian karena apa yang mereka temui dan apa yang mereka dapatkan, semuanya,
mengarah kepada kesimpulan tersebut. Bahkan, sebagian orang juga ada yang
mempercayai dan melaksanakan perintah yang disampaikan oleh hantu (menurut
mereka: roh gentayangan).
Sebutlah
sebagai contoh seperti berikut. Seseorang didatangi orang yang diketahui telah
meningal dunia sejak puluhan tahun, yaitu kakeknya sendiri, dan memberi sebuah
pesan. Pesannya, "Aku menghendaki anak cucuku datang ke pemakamanku. Jika
kau datang dan sebarang beberapa hari kau di sana , niscaya kuberikan sesuatu yang berharga
untukmu." Maka, orang itu mengira bahwa ia telah mendapatkan ilham dari
kakeknya (orang bodoh menyebutnya: wahyu). Maka mereka datang ke pemakanan
kakeknya, kemudian bertapa di sana .
Maka, keadaan orang seperti ini adalah telah syirik kepada Allah.
Kemudian,
ada contoh lagi seperti berikut. Seseorang yang mengira telah mendapatkan ilham
tadi kemudian menyepi atau semadi di pemakaman (kuburan). Beberapa malam
kemudian didatangi kakeknya yang kemudian memberi petuah kepadanya dengan
mengatakan, "Wahai cucuku! Ini kuberikan pusaka sebagai pegangan untukmu.
Jika terjadi sesuatu, mintalah bantuan kepadanya, niscaya akan datang bala
bantuan kepadamu dari pusaka itu. Dan, jangan lupa, peganglah kebenaran."
Maka, seseorang akan dengan yakin dan gembira membawa pusaka yang telah
didapatnya dan akan selalu dipegangnya. Ia tambah yakin dengana adanya sang
kakek yang berpesan untuk selalu berpegang kepada kebenaran. Keadaan orang
semacam ini juga tertipu. Dan, ia telah berbuat syirik.
Kemudian,
ada contoh lagi seperti berikut. Seorang dukun didatangi pasien yang baru
beberapa bulan yang lalu ditinggal mati oleh anaknya. Ia datang untuk meminta
petunjuknya. Pasien yang datang itu mengungkapkan keluhannya, "Mbah
(Kakek!), keluarga saya akhir-akhir ini selalu ditimpa. Apakah ada yang
berusaha menghancurkan saya Mbah? Karena, saya membuka usaha persis di samping
orang kaya sebelum anakku meninggal dunia. Kalau ada, tolonglah Mbah!"
Jawab mbah dikuk,"Silakan kamu pulang dulu anakku, nanti aku akan teropong
siapa gerangan pelakunya.
Kemudian,
datanglah seorang anak kecil kepada dukun itu dalam mimpinya. Anak itu mengaku
telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, dan memberitahukan bahwa pelaku
yang berusaha menghancurkan hidup keluarga ayahku adalah orang kaya di
sampingnya. Sang dukun dengan yakin kemudian memberitahukan kepada pasiennya.
Sang dukun bertanya kepada pasiennya, "Apakah kamu telah ditinggal mati
oleh anakmu?" Sahut pasien, "Ya, benar Mbah, kok Mbah tahu? Sungguh
Mbah ini orang yang mengetahui (orang pinter)." Sang dukun menjawab,
"Setelah aku analisis, memang pelakunya adalah tetanggamu yang kaya itu.
Ia tidak rela jika daganganmu menyainginya. Oleh karena itu, ia berusaha ingin
menghancurkanmu." Demikian penjelasan sang dukun kepada pasiennya.
Tentu Anda
tahu apa yang akan terjadi dengan cerita selanjutnya. Yang terjadi selanjutnya
tidak lain adalah peperangan antara dua orang tetangga. Ini adalah salah satu
akibat campur tangan jin yang jahat untuk memecah-belah manusia. Orang yang
mempercayai dukun dan sang dukun itu sendiri telah berbuat syirik dalam hal
ini. Mereka termasuk orang-orang yang tertipu.
Lalu,
bagaimana hal itu bisa dikatakan orang-orang yang tertipu? Yah, mereka tertipu
karena tidak mengenal ajaran Islam, tidak mau mengenal tentang sifat-sifat
setan, tidak mau mengenal jenis-jenis perbuatan setan. Bahwa semua kejadian
yang kami contohkan tersebut di atas tidak lain adalah bentuk-bentuk kejahatan
setan kepada manusia untuk menjerusmuskan manusia ke dalam lembah kesesatan.
Ketiga contoh tersebut di atas tidak lain adalah bentuk-bentuk penyesatan yang
dilakukan oleh makhluk yang mengaku telah meningal dunia, dan orang yang
didatanginya mempercayainya karena di antaranya mereka melihat bentuknya yang
sama dengan orang yang telah meninggal dunia. Bentuk penyesatan itu dilakukan
oleh sekelompok jenis jin pendamping (qarin).
Dalil
tentang Adanya Jin Pendamping
Ibn Mas'ud
menceritakan, Rasulullah SAW. bersabda yang artinya, "Tidaklah salah
seorang dari kalian melainkan ada pendampingnya dari golongan jin." Mereka
bertanya, "Juga padamu, ya Rasulullah?" "Ya, juga bagiku, hanya
saja aku telah mendapat perlindungan dari Allah sehingga aku selamat. Ia tidak
memerintahkan aku kecuali kebaikan." (HR Muslim).
Ath-Thabarani
mengisahkan riwayat dari Syuraik bin Thariq. Ia berkata, Rasulullah saw.
bersabda, "Tidak ada seseorang di antara kalian melainkan ada baginya
seorang setan." Mereka bertanya, "Juga bagimu, ya Rasulullah?"
"Ya, juga bagiku, tetapi Allah melindungiku sehingga aku selamat
."(HR. Ibnu Hibban).
Ibn Mas'ud
meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, Setiap anak Adam mempunyai kelompok,
dan bagi malaikat ada kelompok dengan anak Adam. Kelompok setan mengajak kepada
kejahatan dan mendustakan yang hak, adapun kelompok malaikat mengajak kepada
kebaikan dan membenarkan yang hak. Barang siapa yang mendapatkan yang demikian
itu, maka ketahuilah bahwa itu dari Allah dan pujilah Allah, dan barang siapa
yang mendapatkan selain itu, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan
yang terkutuk, kemudian ia membaca asy-syaithanu ya'idukumul-faqra wa
ya'murukum bil-fahsya'." HR Tirmizi).
Sa'id
al-Jariri mengomentari ayat yang berbunyi, "Barang siapa yang berpaling
dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Alquran), kami adakan baginya
setan." (Az-Zukhruf: 36). Ia berkomentar, "Telah sampai berita kepada
kami bahwa orang kafir apabila dibangkitkan pada hari kiamat, setan akan
mendorong dengan tangannya, hingga ia tidak bisa melawannya, sampai Allah
menempatkannya di api neraka, dan ketika itu ia berkata, 'Aduhai, semoga
(jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat.' (Az-Zukhruf:
38). Sementara, orang mukmin akan diwakilkan padanya malaikat sampai ia diadili
di antara manusia dan menempatkannya dalam surga.
Demikianlah,
orang yang berpaling dari petunjuk yang lurus, yaitu Alquran dan sunah, maka
baginya akan diadakan oleh Allah setan, yang akan menyesatkannya. Contoh
cerita-cerita yang disebutkan di atas adalah salah satu bentuk contoh mereka
yang terkelabui oleh setan, karena mereka tidak menempuh jalan yang lurus,
tetapi mengambil jalan orang-orang yang sesat, di antaranya mereka percaya
dengan dukun, di antaranya mereka percaya dengan ilham-ilham picisan yang
sebenarnya bukan ilham, tetapi tipu daya setan untuk menyesatkan manusia.
Pernikahan
di antara Jin
Persoalan
tentang perkawinan di antara jin telah dinyatakan dalam Alquran yang artinya,
"Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin
selain Aku, sedang mereka adalah musuhmu? " (Al-Kahfi: 50).
Allah SWT
berfirman, "Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka
(penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh
jin." (Ar-Rahman: 56). Ini menerangkan bahwa jin melakukan persentuhan
(persetubuhan) di antara mereka.
Ibn Abi
Hatim dan Abu asy-Syekh dalam Al-'Azhamah meriwayatkan dari Qatadah tentang
ayat afattakhidzunahu wadzurriyatahu bahwa mereka dan anak-anaknya melahirkan
keturunan, sebagaimana layaknya manusia, bahkan kaum jin jumlahnya lebih banyak
daripada anak Adam.
Ibn Abdil
Barr, Ibn Jarir, Ibn al-Mundzir, Ibn Abi Hatim, dan Al-Hakim meriwayatkan dari
Abdullah bin 'Umar, ia berkata, "Allah membagi manusia dan jin menjadi
sepuluh bagian, sembilan di antaranya adalah jin dan satu bagian lagi manusia.
Setiap manusia melahirkan satu, maka jin melahirkan sembilan."
Al-Baihaqi
meriwayatkan dalam kitab Syu'ab al-Iman dari Tsabit, ia mengatakan, "Telah
sampai berita kepada kami bahwa iblis berkata, 'Wahai Tuhan, Engkau telah
menciptakan Adam, dan Engkau jadikan di antara aku dan Adam pemusuhan, karena
itu berikanlah kekuasaan kepadaku atasnya.' Allah berfirman, 'Dada-dada mereka
adalah tempat tinggalmu.' Lalu setan berkata lagi, 'Wahai Tuhanku, tambahkan
lagi!' Kemudian, Allah berfirman, 'Bani Adam tidak melahirkan satu anak,
melainkan kamu melahirkan sepuluh anak.' Setan berkata lagi, 'Tambahkan lagi,
ya Tuhan!' Maka Allah berfirman, 'Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan
berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada
harta dan anak-anak'."
Pernikahan
Jin Laki-Laki dengan Perempuan dan Pernikahan Manusia dengan Jin Perempuan
Setelah
kita mengetahui seluk-beluk kehidupan bangsa jin, kita kemudian bertanya,
mungkinkan antara jin dan manusia bisa menjalin hubungan seksual?
Imam
Ats-Tsa'labi mengatakan, para ulama beranggapan bahwa pernikahan dan perkawinan
antara jin dan manusia mungkin saja terjadi. Allah SWT telah berfirman yang
artinya, "Dan, berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak."
(Al-Isra': 64).
Al-Hakim,
At-Tirmizi, dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, "Apabila
seseorang menyetubuhi istrinya dengan tidak menyebut nama Allah, jin akan
menyelinap dalam saluran kencingnya dan ikut serta dalam bersetubuh." Hal
itu dilandasi dengan dengan firman Allah, "Tidak pernah disembah oleh
manusia sebelum manusia (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan
tidak pula oleh jin." (Ar-Rahman: 56).
Dalam
kitab Tahrim al-Fawahisy, Ath Thurthusyi menceritakan dalam bab Min Ayyi
Syai'in Yakunu al-Mukhannats, katanya, Ibn Abbas berkata, "Al-mukhannats
(laki-laki yang seperti perempuan/banci) adalah anak-anak jin." Lalu ia
ditanya kembali, "Bagaimana itu bisa tejadi?" Ibn Abbas menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya telah melaang seseorang menyetubuhi istrinya pada
waktu haid. Jika ia menyetubuhi istrinya pada kondisi demikian, setan
mendahuluinya, dan setelah istrinya hamil, ia akan melahirkan mukhannats."
Al-Bukhari
dan Muslim meriwayatkan dari Ibn Abbas ,
ia mengatakan, Nabi saw. besabda,
"Kalau seseorang di antaramu ingin besetubuh dengan istrinya, ucapkanlah,
'Dengan nama Allah, ya Tuhanku, jauhkan diri kami dari setan, dan jauhkan ia
dari rezeki 9anak) yang Engkau beikan kepada kami.' Karena, jika Allah
menakdirkan mereka mendapatkan anak dari persetubuhan itu, setan tidak akan
dapat membahayakannya (anak itu) selamanya."
Abu
al-Ma'ali dalam kitab Fi Syarh al-Hidayah menyebtukan bahwa seorang wanita
berkata, "Saya bersama jin telah melakukan persetubuhan, sebagaimana
seorang laki-laki menyetubuhi perempuan." Wanita itu tidak wajib mandi.
Pendapat itu juga dikatakan oleh para ulama mazhab Hanafi, karena tidak ada
sebab jimak, yaitu memasukkan kemaluan dan bermimpi.
Adapun
Asy-Syibli mengatakan ada pertimbangan tentang hal itu. Seharusnya wanita itu
wajib mandi. Karena, kalau tidak keluar mani, tidak mungkin ia mengetahui jin
laki-laki itu telah menyetubuhinya seperti manusia biasa.
Satu
pendapat mengatakan bahwa salah satu orang tua Ratu Balqis adalah jin. Ibn al-'Ala mengatakan,
"Ayahnya menikah dengan seorang perempuan bangsa jin yang dikenal bernama
Raihanah binti As-Sakan hingga ia melahirkan Balqis. Ada yang mengatakan bahwa tumitnya seperti
telapak kaki penggembala kambing, pada betis kakinya tumbuh bulu, kemudian Nabi
Sulaiman menikahinya."
Abu
asy-Syekh dalam kitab Al-'Azhamah, Ibn Mardawaih dan Ibn 'Asakir meriwayatkan
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Salah satu orang tua
Ratu Balqis adalah jin."
Ibn Abi
Syaibah dan Ibn al-Mundzir meriwayatkan dari Mujahid, ia mengatakan,
"Pemilik negeri Saba ', ibunya adalah
jin."
Al-Hakim
dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari Utsman bin Hafir, ia mengatakan,
"Ibunya Balqis adalah seorang perempuan, yang kata orang namanya Bulqiyah
binti Syaithan."
Al-Hakim
at-Turmudzi dalam Nawadir al-Ushul meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah
saw. bersabda, "Sesungguhnya di antara kalian terdapat al-mughrabin."
Beliau ditanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan
al-mughrabin?" Beliau menjawab, "Yaitu, orang-orang yang pada dirinya
jin bergabung." Dalam kitab An-Nihayah, Ibn al-Atsir mengatakan,
"Mereka dinamai al-mughrabin karena dimasuki keturunan yang aneh, atau
karena mereka datang dari keturunan yang amat jauh.
Perkawinan
jin ini juga diceritakan di dalam kitab Nuzhah al-Mudzakarah melalui jalur
Az-Zuhri, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utaibah bin Mas'ud, dari Abu Sa'id
al-Khudri, ia mengatakan, "Aku dan Ali bin Abi Thalib mengikuti Perang
Haruriyah di negeri Nahrawan. Ketika itu Ali mencari seorang budak yang hilang,
lalu mereka memberitahukan bahwa ia telah pergi dan lari. Ali pun memerintahkan
mereka untuk mencarinya, setelah itu mereka mendapatkannya. Kemudian, Ali
bertanya, "Siapa yang mengenal dia?" Seseorang di antara mereka
menjawab, "Kami kenal dia, ibunya di sini." Lalu Ali membawanya dan
menghampiri ibunya. Kemudian bertanya, "Siapa ayah anak ini?" Ibu itu
menjawab, "Saya tidak tahu, ketika saya sedang menggembala kambing
majikanku pada zaman jahiliah di kota
Madinah tiba-tiba sesuatu yang hitam kelam menyelimutiku, dan aku pun hamil
dari itu hingga melahirkan anak ini." Wallahu a'lam.
Sumber :
Diadaptasi dari Hijab antara Jin & Manusia terjemahan dari Luqath al-Marjan
fi al-Ahkam al-Jan, Imam Jalaluddin as-Suyuthi
1 Lihat
Al-Jin wa As Syayatin wa al Sihr wa al 'Ain wa al Ruqo karya al Amin al Haj
Muhammad Ahmad
2 Lihat
Majmu' Al Fatawa juz 19/10
3 Lihat
Ahkam AL Marjan fii Ahkam AlJaan
4 Ibid hal
3 dan 4
5 Lisan al
Arob juz 13/92
6 Ahkam al
Marjan fii Ahkam al Jaan, hal 6
Wassalamu’alaykum
wr.w
Singgasana
Iblis
“Dari
Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Sesungguhnya iblis
singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang
paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka
ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu
belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda
seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak)
dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan
berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.’” (HR. Muslim 2813).
Faidah
hadits:
1. Dalam
hadis ini, iblis memuji dan berterima kasih atas jasa tentaranya yang telah
berhasil menggoda manusia, sehingga keduanya bercerai tanpa sebab yang dianggap
dalam syariat. Ini menunjukkan bahwa perceraian suami istri termasuk diantara
perbuatan yang disukai iblis.
2. Iblis
menjadikan singgasananya di atas laut untuk menandingi Arsy Allah Ta’ala, yang
berada di atas air dan di atas langit ketujuh.
3. Pada
dasarnya talak adalah perbuatan yang dihalalkan. Akan tetapi, perbuatan ini
disenangi iblis, karena perceraian memberikan dampak buruk yang besar bagi
kehidupan manusia. Terutama terkait dengan anak dan keturunan. Oleh karena itu,
salah satu diantara dampak negatif sihir yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an
adalah memisahkan antara suami dan istri. Allah berfirman,
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ
بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِه
“Mereka belajar dari keduanya (harut dan
marut) ilmu sihir yang bisa digunakan
untuk memisahkan seseorang dengan istrinya.”
(QS. Al-Baqarah: 102).
Penulis:
Tim Dakwah KisahMuslim.com
Artikel www.KisahMuslim.com
9 JENIS
NAMA SETAN MENURUT ISLAM (KHALIFA UMAR BIN KHATTAB R.A.)
Posted by
gogoklik Labels: Dunia Rohani,
gogo
Umar
al-Khattab r. a berkata, terdapat 9 jenis anak syaitan :
1. Zalituun Duduk di pasar / kedai Menggoda supaya
manusia berbelanja lebih dan membeli barang-barang yang tidak perlu.
2. Wathiin
Pergi
kepada orang yang mendapat musibah supaya bersangka buruk terhadap Allah.
3. A'awan
Menghasut
sultan / raja / pemerintah supaya tidak mendekati rakyat. Terlena dengan
kedudukan / kekayaan hingga terabaikan kebajikan rakyat dan tidak mau mendengar
nasihat para ulama.
4.
Haffaf
Berkawan
baik dengan kaki botol. Suka menghampiri orang yang berada di tempat-tempat
maksiat (cth: disko, prostitusi, klub malam & tempat yg ada minuman keras).
5. Murrah
Merusakkan
dan melalaikan alloh dan orang yg suka muzik sehingga lupa kepada Allah. Mereka
ini tenggelam dalam kemewahan dan glamour dsg.
6. Masuud
Duduk di
bibir mulut manusia supaya melahirkan fitnah, gosip, umpatan dan apa saja
penyakit yg keluar dari kata-kata mulut.
7. Daasim
(BERILAH SALAM SEBELUM MASUK KE RUMAH...)
Duduk di
pintu rumah kita. Jika tidak memberi salam ketika masuk ke rumah, Daasim akan
bertindak agar terjadi keruntuhan rumahtangga (suami isteri bercerai-berai,
suami bertindak ganas, memukul isteri, isteri hilang pertimbangan menuntut
cerai, anak-anak didera dan pelbagai bentuk kemusnahan rumah tangga lagi).
8. Walahaan
Menimbulkan
rasa was-was dalam diri manusia khususnya ketika berwuduk dan solat serta
ibadat-ibadat kita yg lain.
9. Lakhuus
Merupakan
sahabat orang Majusi yang menyembah api / matahari sumber:internet Description:
9 Jenis Nama Anak Setan Menurut Khalifa Umar Bin Khattab R.A. Rating: 4.5
Reviewer: Mas Dowi Item Review-ed: 9 Jenis Nama Anak Setan Menurut Khalifa Umar
Bin Khattab R.A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar